PENINGKATAN PENGETAHUAN PETANI TENTANG TEKNIK PENJARANGAN BUAH JERUK SIAM DI SUBAK ABIAN TIING TALI DESA BONYOH KECAMATAN KINTAMANI

Oleh : | 25 Juli 2024 | Dibaca : 1259 Pengunjung


PENINGKATAN PENGETAHUAN PETANI TENTANG TEKNIK PENJARANGAN BUAH JERUK SIAM DI SUBAK ABIAN TIING TALI DESA BONYOH KECAMATAN KINTAMANI

PENINGKATAN PENGETAHUAN PETANI TENTANG TEKNIK
PENJARANGAN BUAH JERUK SIAM DI SUBAK ABIAN TIING TALI DESA
BONYOH KECAMATAN KINTAMANI
Naber *1), Purwanti *2), Srimunarti *3)
1Program Studi A, Jurusan Pertanian, Polbangtan Malang, 2Polbangtan Malang,
3Dinas Pertanian Kabupaten Bangli
Email: 1inengahnaber07@gmail.com
Abstrak
Bali merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi pengembangan jeruk
terutama jeruk Siam (Citrus nobillis). Sentra produksi berada di Kecamatan Kintamani
yaitu sekitar 82,61% (106,787 ton) dari produksi jeruk di Bali (BPS, 2017). Saat ini
terjadinya fluktuasi produksi yang menunjukan adanya masalah yang dihadapi oleh petani
jeruk dalam berusahatani, salah satunya disebabkan oleh pengelolaan perkebunan yang
tidak mengacu pada pedoman budidaya yang baik dan benar. Berdasarkan hal tersebut
maka penyuluh pertanian ingin meningkatkan pengetahuan petani melalui kegiatan
penyuluhan khususnya tentang “Teknik penjarangan buah jeruk siam (Citrus nobilis) di
Tiing Tali Desa Bonyoh. Sebelum pelaksanaan penyuluhan disusun rancangan penyuluhan
dengan menetapkan tujuan, sasaran, metode, teknik, media, waktu dan evaluasi
penyuluhan. Berdasarkan hasil kegiatan maka dapat disimpulkan bahwa rancangan
penyuluhan pertanian disusun berdasarkan kebutuhan di lapangan dan kondisi petani
sasaran yaitu materi penyuluhan ditetapkan tentang teknik penjarangan buah jeruk Siam,
metode pendekatan kelompok dan perorangan. Teknik penyuluhan yaitu ceramah, diskusi
dan demonstrasi cara serta media yang digunakan adalah media cetak berupa folder.
Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan petani sasaran
tentang teknik penjarangan buah jeruk Siam sebesar 46.27 (cukup baik) yang dilihat dari
hasil rata-rata hasil pre test 37.10 dan rata- rata nilai pos tes 83.37. Penyuluhan yang
dilakukan termasuk dalam kategori efektif karena efektivitas penyuluhan mencapai
73.56%.
PENDAHULUAN
Tanaman jeruk di Indonesia merupakan tanaman unggulan yang dapat dibudidayakan
baik didataran rendah maupun dataran tinggi (Endarto dan Martini, 2018). Bali merupakan
salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi pengembangan
jeruk terutama jeruk Siam (Citrus nobillis). Sentra produksi jeruk Siam berada di
Kecamatan Kintamani yaitu sekitar 82,61% (106,787 ton) dari produksi jeruk di Bali (BPS,
2017). Produksi jeruk siam di provinsi Bali cenderung berfluktuatif setiap tahun.
Terjadinya fluktuasi produksi jeruk siam ini menunjukan adanya masalah yang dihadapi
oleh petani jeruk dalam berusahatani. Hal tersebut terjadi akibat pengelolaan perkebunan
jeruk yang sampai saat ini tidak mengacu pada pedoman budidaya yang baik dan benar
(good agriculture practices/GAP). Subak Abian Tiing Tali di Desa Bonyoh Kecamatan
Kintamani merupakan salah satu sentra produksi buah jeruk siam dengan luas areal tanam
sekitar 45 ha, namun kualitas produksi buah masih rendah yang disebabkan oleh tidak
dilakukannya teknologi penjarangan buah (Naharsari, 2017). Disamping itu pengetahuan
petani tentang teknik penjarangan buah jeruk juga masih rendah sehingga penulis ingin
merubah pengetahuan melalui kegiatan penyuluhan tentang ”Teknik Penjarangan Buah
Jeruk Siam (Citrus nobilis) di Subak Abian Tiing Tali Desa Bonyoh, Kecamatan
Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali”.
METODOLOGI
? Menyusun Rancangan Penyuluhan
Kegiatan dilaksanakan di Desa Bonyoh Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli
Provinsi Bali melalui dua tahap, tahap satu berupa kegiatan identifikasi potensi wilayah
(IPW) yang dilaksanakan pada bulan Nopember 2023 sampai dengan Desember 2023, dan
tahap dua pelaksanaan penyuluhan yang akan di salah satu poktan/subak yang ada di Desa
Bonyoh pada bulan Maret sampai Mei tahun 2024.
Berdasarkan hasil IPW maka ditetapkan beberapa langkah – langkah untuk
pelaksanaan penyuluhan pertanian, antara lain: penetapan tujuan penyuluhan pertanian
yaitu meningkatkan pengetahuan tentang teknik penjarangan buah jeruk Siam; penetapan
sasaran penyuluhan, yaitu anggota subak Tiing Tali di Desa Bonyoh Kecamatan Kintamani
yang merupakan salah satu subak abias berpotensi pengembangan jeruk Siam; penetapan
materi penyuluhan, materi penyuluhan ditentukan berdasarkan kebutuhan sasaran
penyuluhan dalam hal ini adalah teknik penjarangan buah jeruk Siam; penetapan metode
penyuluhan, pemilihan metode penyuluhan ditetapkan berdasarkan kebutuhan petani,
karakteristik petani, sumber daya yang tersedia serta kondisi lingkungan;
penetapan media penyuluhan, media penyuluhan digunakan untuk mengubah perilaku
petani menjadi lebih modern dan inovatif. Penetapan media penyuluhan dipilih
berdasarkan karakteristik sasaran, kondisi lapangan, serta metode yang telah dipilih dalam
penyuluhan; penetapan evaluasi penyuluhan, Evaluasi penyuluhan pertanian merupakan
suatu proses sistematis untuk memperoleh informasi yang relevan dan mengetahui sejauh
mana perubahan perilaku petani sebelum dan sesudah melakukan penyuluhan, sejauh mana
efektivitas rancangan program penyuluhan pertanian dalam melakukan kegiatan
penyuluhan.
? Implementasi Rancangan Penyuluhan
Tahapan dalam persiapan penyuluhan untuk mecapai tujuan, yaitu melakukan
perizinan pada pemerintah setempat serta stakeholder terkait yang terlibat dalam kegiatan
penyuluhan, menetapkan lokasi dan waktu pelaksanaan kegiatan penyuluhan; dan
menyiapkan sarana penunjang lain untuk memperlancar proses kegiatan.
Pelaksanaan kegiatan penyuluhan disesuaikan jadwal yang telah ditetapkan dan
disepakati bersama. Langkah-langkah dalam pelaksanaan penyuluhan adalah;
mengumpulkan sasaran penyuluhan; memberikan daftar hadir kepada sasaran penyuluhan;
menyebarkan kuesioner evaluasi penyuluhan berupa pre tes; melaksanakan kegiatan
penyuluhan sesuai dengan pedoman yang telah disiapkan yaitu Lembar Persiapan
Menyuluh (LPM); evaluasi penyuluhan berupa post tes; menganalisis dan
menginterpretasikan hasil kegiatan penyuluhan; menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL).
? Pelaksanaan Evaluasi
Evaluasi pelaksanaan penyuluhan pertanian dilakukan dengan menganalisis hasil
pre tes dan pos tes berupa hasil kuisioner kepada sasaran penyuluhan . Berdasarkan hasil
kuisioner tersebut diharapkan akan terjadi peningkatan pengetahuan sasaran sehingga
kegiatan penyuluhan dapat dikategorikan berhasil dan efektif. Tahapan kegiatan evaluasi
setelah pengisian kuisioner oleh sasaran adalah pengumpulan dan tabulasi data hasil
pengisian kuesioner serta menganalisis data untuk mencapai tujuan pada kegiatan
penyuluhan dan evaluasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan Wawancara, yaitu
wawancara semi structured kepada petani peserta menggunakan kuisioner yang disebarkan
sebelum (pre tes) dan setelah (pos tes) penyuluhan; Observasi, yaitu pengumpulan data yang
dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung kelapangan dan kantor-kantor dinas di
Kabupaten Bangli yang terkait dengan topik kegiatan; dan dokumentasi, yaitu metode
pengumpulan data dengan melihat atau menganalisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh obyek
sendiri atau oleh orang lain tentang obyek yang terkait dengan penyuluhan. Sedangkan Analisa
data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Menurut Sugiyono
(2013), tujuan dari penelitian deskriptif adalah menggambarkan secara sistematis dan
akurat fakta dari suatu karakteristik populasi atau bidang tertentu. Data yang dikumpulkan
semata-mata bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji
hipotesis, membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. Perubahan pengetahuan
sasaran ditetapkan melalui beberapa parameter yang akan diamati untuk
menggambarkan/mendiskripsikan tingkat perubahan pengetahuan dengan menetapkan
kriteria yang akan dinilai beserta bobot/skor dari masing-masing kriteria.
HASIL DAN PEMBAHASAN
? Keadaan Umum Desa Bonyoh
Luas wilayah keseluruhan Desa Bonyoh adalah 575.5 ha dengan topografi daerah
dataran tinggi dengan tinggi tempat 700 – 750 m dpl. Desa Bonyoh termasuk daerah
beriklim tropis basah dengan suhu rata-rata 22 oC – 28 oC. Intensitas sinar matahari
sedang dan ketersediaan sumberdaya air mengandalkan hujan dengan rata- rata curah
hujan 1.513,5 mm/tahun. Jumlah Bulan Basah (BB) per tahun berkisar 5 (lima) bulan,
yang biasanya terjadi pada bulan Desember - April. Jumlah Bulan Kering (BK) per
tahun adalah 6 (enam) bulan, biasanya terjadi pada bulan Mei- Oktober.
Adapun batas-batas wilayah Desa Bonyoh adalah sebagai berikut :
Sebelah utara : Desa Bayung Gede
Sebelah selatan : Desa Taro Kabupaten Gianyar
Sebelah barat : Desa Abuan, dan
Sebelah timur : Desa Sekaan.
? Penduduk
Penduduk desa Bonyoh berjumlah sebanyak 1.309 jiwa. Mata pencaharian
penduduk sebagian besar sebagai petani dan peternak, lainnya bermata pencaharian
sebagai buruh tani, pekerja bangunan, pedagang, PNS dan TNI/POLRI. Distribusi
jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Usia penduduk berada pada kategori usia kerja produktif karena 44 % penduduk
desa Bonyoh berusia 20 – 49 tahun, usia tergolong anak – anak sampai dewasa atau
usia masa pendidikan (0 – 19 tahun) sebanyak 36 % dan usia lanjut (<
50 tahun) sebanyak 20 %. Jumlah penduduk berdasarkan kategori usia kerja disajikan
pada Gambar 2.
Gambar 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia Kerja.
Tingkat pendidikan penduduk di Desa Bonyoh adalah 33 % penduduk hanya
lulus sekolah dasar (SD) diikuti oleh penduduk yang lulus SLTP sebanyak 25 %,
selanjutnya 21 % lulus SLTA dan hanya 1 % dari penduduk di Desa Bonyoh
pendidikan tinggi D3 dan S1, namun penduduk yang tidak sekolah sebanyak 19 %.
Data keadaaan penduduk berdasarkan tingkat pendidikan secara lengkap disajikan
pada Gambar 3.
Gambar 3. Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan.
? Tata Guna Lahan
Tata guna lahan di Desa Bonyoh dapat diklasifikasikan bahwa sebagian besar
lahan (75.33 %) merupakan areal tegalan seluas 433.17 ha dan 18 ha lahan perkebunan
(3.13 %) yang merupakan lahan pertanian khususnya komoditas jeruk, Penggunaan
lahan untuk perkantoran desa paling sedikit yaitu sekitar 0.05 ha. Klasifikasi
penggunaan lahan selengkapnya disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Klasifikasi penggunaan lahan
No Penggunaan Luas (Ha) %
1 Tegalan 433.17 75.33
2 Pekarangan 11.25 1.96
3 Perkebunan 18 3.13
4 Fasilitas Kantor 0.05 0.01
5 Sekolah 0.10 0.02
6 Tempat Ibadah /Pura 2.50 0.43
7 Hutan rakyat 65 11.30
8 Fasilitas Olah Raga 0.10 0.02
9 Bangunan Umum 1.7 0.30
10 Penggunaan Lain 43.17 7.51
Jumlah 575.05 100
Sumber: Programa Desa Bonyoh, 2023
? Karakteristik Petani Sasaran
Berdasarkan survei yang dilaksanakan maka diperoleh hasil tentang karakteristik
petani sasaran yang mencakup umur, tingkat pendidikan, luas lahan dan kepemilikan
tanaman jeruk. Karakteristik petani selengkapnya diuraikan sebagai berikut :
A. Umur Petani
Distribusi petani sampel berdasarkan kelompok umur di wilayah kegiatan
disajikan seperti pada Tabel 2.
Tabel 2. Distribusi Petani Berdasarkan Kelompok Umur
No Umur (thn) Jumlah
(org)
% Ket
1 20 – 30 3 7.5
2 31 – 40 6 15
3 41 – 50 15 37.5
4 > 50 16 40
Jumlah 40 100
Sumber: Data primer diolah, 2024.
Berdasarkan data pada Tabel 4 dapat dijelaskan bahwa petani sasaran yang
berumur produktif yaitu 20 – 50 tahun merupakan usia terbanyak dengan total
jumlahnya sekitar 60 % dari populasi, sedangkan sisanya sekitar 40 % berada pada
umur > 50 tahun.
B. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh petani
sasaran di sekolah. Distribusi petani sasaran berdasarkan tingkat pendidikan di daerah
kegiatan disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Distribusi Petani Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No Tk.
Pendidikan
Jumlah
(org)
% Ket
1 SD 31 77.5
2 SLTP 4 10
3 SLTA 3 7.5
4 PT 2 5
Jumlah 40 100
Sumber: Data primer diolah, 2024.
Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan petani sasaran yang
terbanyak adalah pada tingkat pendidikan dasar (SD) yaitu sebanyak 31 orang atau
77.5 %. Tingkat pendidikan yang paling sedikit di wilayah kegiatan adalah pada
tingkat perguruan tinggi yaitu hanya 2 orang (5 %). Hal ini menyebabkan tingkat
respon atau daya terima petani terhadap materi yang disampaikan akan relatif rendah,
karena umumnya semakin tinggi pendidikan maka semakin baik respon seseorang
dalam menerima inovasi khususnya teknologi penjarangan buah pada tanaman jeruk
siam.
C. Luas Lahan dan Jumlah Kepemilikan Tanaman
Distribusi petani sasaran penyuluhan berdasarkan luas lahan dan jumlah tanaman
jeruk yang diusahakan di wilayah kegiatan disajikan seperti pada Tabel 4.
Tabel 4. Distribusi Petani Berdasarkan Luas Lahan dan Jumlah Tanaman Jeruk
No Luas lahan
(Ha)
Jumlah
tanaman
(phn)
Jumlah
(org)
% Ket
1 0.25 – 0.50 100 – 500 9 22.5
2 0.51 – 1.00 501 – 1.000 22 55
3 < 1.00 < 1.000 9 22.5
Jumlah 40 100
Sumber: Data primer diolah, 2024.
Luas lahan garapan petani sasaran dan jumlah kepemilikan tanaman jeruk yang
diusahakan di wilayah kegiatan penyuluhan berdasarkan data pada Tabel 4 dapat
diuraikan bahwa lahan yang digarap masih tergolong luas yaitu diatas 1.00 ha (77.5
%), sedangkan sisanya sebanyak 22.5 % luas lahan garapan petani berkisar antara
0.25 – 0.50 ha. Jumlah tanaman yang dibudidayakan sesuai dengan luas lahan yang
digarap, yaitu semakin luas lahan maka semakin banyak pula kepemilikan tanaman
yang dipelihara.
? Penerapan Rancangan Penyuluhan
Berdasarkan hasil identifikasi potensi wilayah yang dilaksanakan maka ditetapkan
Rancangan Penyuluhan seperti berikut ini:
- Materi : Teknik penjarangan buah jeruk Siam
- Waktu : 29 Maret 2024
- Sasaran : Anggota subak abian Tiing Tali Desa Bonyoh, Kintamani - Bangli
- Metode : Pendekatan Kelompok dan perorangan
- Teknik : Diskusi, ceramah dan demostrasi cara
- Media : Folder
- Evaluasi : Pre test dan post test
? Evaluasi Penyuluhan
Tingkat keberhasilan kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan dapat dilihat dari
kegiatan evaluasi. Kegiatan evaluasi dilakukan dengan melihat peningkatan tingkat
pengetahuan petani setelah dilakukannya penyuluhan. Peningkatan pengetahuan
yang terjadi dapat dilihat melalui perbandingan antara pre test dan post test
(Mardikanto T, 1991). Sebelum pelaksanaan penyuluhan responden diberi pre test
untuk mengukur tingkat pengetahuan dasar yang berkaitan dengan teknik penjarangan
buah jeruk Siam. Sedangkan post test dilakukan setelah pelaksanaan penyuluhan
dengan memberikan kuisioner yang sama dengan pada saat dilaksanakannya pre test,
dengan tujuan untuk mengetahui daya serap responden terhadap materi penyuluhan
yang diberikan.
Hasil evaluasi yang diperoleh dengan ketentuan yang telah ditetapkan adalah
sebagai berikut:
• Tingkat pengetahuan petani saat sebelum pelaksanaan kegiatan penyuluhan adalah
37.10 pada kategori cukup tahu.
• Tingkat pengetahuan petani saat setelah pelaksanaan penyuluhan menjadi 83.37 pada
kategori tahu.
• Peningkatan pengetahuan = 83.37 – 37.10 = 46.27 (cukup baik)
• Kesenjangan = 100 – 37.10 = 62.90
• Efektivitas peningkatan pengetahuan =
= 73.56 (efektif).
Berdasarkan hal tersebut maka dapat dijelaskan bahwa tingkat pengetahuan petani
saat sebelum pelaksanaan kegiatan penyuluhan memperoleh total skor 37.10 pada kategori
cukup tahu dan setelah dilakukan kegiatan penyuluhan menjadi 83.37 pada kategori tahu
dengan peningkatan pengetahuan sebesar 46.27 pada kategori cukup baik. Efektivitas
penyuluhan sebesar 73.56 % yang termasuk dalam kategori “efektif”. Perolehan efektivitas
penyuluhan yang baik ini disebabkan karena pada saat pre test sebelum dilakukannya
penyuluhan, pengetahuan responden terhadap materi penyuluhan relatif rendah karena
memang sebagian besar petani belum melaksanakan teknik penjarangan buah pada
tanaman jeruk Siam. Hal ini terlihat dari perolehan nilai pre test yang rendah yaitu rata
37.10, sedangkan setelah dilakukannya penyuluhan rata-rata responden mulai memahami
dan mengenal tentang bagaimana teknik penjarangan buah
pada tanaman jeruk Siam yang tepat untuk memperoleh produksi yang optimal. Hal ini
terlihat dari perolehan nilai post test yang tinggi yaitu rata-rata 83.37.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil survei yang dilaksanakan dan hasil kegiatan penyuluhan yang
dilakukan di wilayah penelitian yang merupakan wilayah kerja sebagai penyuluh pertanian
maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sesuai dengan kondisi lapangan dan keadaan petani sasaran sebagai responden maka
ditetapkan materi penyuluhan tentang teknik penjarangan buah pada tanaman jeruk
Siam dengan menggunakan metode pendekatan kelompok dan perorangan. Teknik
yang digunakan yaitu ceramah, diskusi dan demonstrasi cara sehingga penyerapan
materi yang disampaikan akan lebih mudah kepada sasaran serta media yang digunakan
adalah media cetak berupa folder.
2. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan petani sasaran
tentang teknik penjarangan buah jeruk Siam sebesar 46.27 (cukup baik) yang dilihat
dari hasil rata-rata hasil pre test 37.10 dan rata-rata nilai pos tes 83.37. Penyuluhan
yang dilakukan termasuk dalam kategori efektif karena efektivitas penyuluhan
mencapai 73.56%.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik (BPS), 2017. Bali dalam Angka. Provinsi Bali.
(BPS), 2017. Potensi Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangli.
Endarto., O. Martini., E. 2018. Pedoman Budidaya Tanaman Jeruk Sehat. Balitjestro.
Malang.
Kementan, 2014. Pohon Jeruk – Info & Penggunaan Pohon Jeruk.
https://wikifarmer.com/id/informasi-pohon-jeruk/. Diakses pada tanggal 21
Nopember 2023.
Mardikanto T, 1991. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press,
Surakarta.
Naharsari, N.D. 2017. Bercocok Tanam Jeruk. Azka Mulia Media. Jakarta. 76 h
Setiana, 2015. Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Ghalia Indonesia,
Jakarta.
Soesilo HS, 2009. Hand Out Monitoring dan Evaluasi. Badan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Pertanian, STPP Malang.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Bandung.
Wulandari, Hartadi, Agustina. 2014. Analisis Produksi Dan Pendapatan Serta Strategi
Wahjuti, 2007. Metodologi Penyuluhan Pertanian Partisipatif. Sekolah Tinggi
Penyuluhan Pertanian. Malang.

 


ARTIKEL LAINNYA

LIHAT ARSIP ARTIKEL LAINNYA

 

KEPALA DINAS PERTANIAN, KETAHANAN PANGAN DAN PERIKANAN KABUPATEN BANGLI

Ir.I Wayan Sarma